Harapan Pemulung
Hari terlalu pagi, aku tak tahu harus
kemana. Sinar mentari di sebelah timur belum tampak muncul sempurna. Ayam
berkokok seakan-akan mengajak untuk segera melangkah dan melanjutkan hidup. Aku
hanya seorang pekerja yang tidak tetap. Bukan pegawai maupun karyawan. Mungkin,
hanya ini yang bisaku lakukan menjadi seorang pemulung. Aku memiliki seorang
istri dan 2 orang anak. Hidup kami penuh dengan kesederhanaan tidak seperti
mereka yang beruntung hidup dengan kemewahan. Rumah gubuk merupakan
satu-satunya harta yang kami miliki. Aku hidup di perkotaan tepatnya di pinggir
rel kereta api. Seakan-akan rumah akan rubuh, jika ada kereta api yang lewat.
Waktu menunjukkan pukul 04:00 WIB. Aku
harus bergegas pergi untuk mengais barang-barang bekas di tepi kota. Istriku
dan anakku yang masih kecil sedang pulas tertidur.
“Bapak mau
kemana?”, anak sulung bertanya dengan setengah sadar dari bangun tidurnya.
“Bapak harus pergi nak.” Jawabku.
“Sepagi ini
Bapak mau pergi kemana? Istirahatlah dari pekerjaanmu sehari saja, aku
mengkhawatirkan kesehatanmu.” Jawabnya dengan penuh rasa cemas.
“Sudahlah tak
usah kau khawatirkan aku, jika aku tidak bekerja nanti kita makan apa nak?” Aku
mencoba menenangkannya.
Rambutku sudah mulai memutih. Mataku
sudah tak setajam silet. Tubuhku hanya terselimut daging tipis. Sebernarnya aku
sudah bosan hidup seperti ini. Aku merasa kasihan dengan istri dan anak-anakku.
Mereka tidak pernah merasakan hidup mewah seperti orang lain yang dipandanginya.
Jalan-jalan di mall, makan-makanan yang enak, dan barang-barang yang mereka
inginkan serba terpenuhi. Istriku tidak bekerja. Sebenarnya ia ingin sekali
membantuku untuk mengumpulkan beberapa rupiah.
Tidak banyak rupiah yang aku dapatkan
dalam sehari. Rp50.000 saja itu merupakan jumlah yang sudah maksimal. Aku hanya
mengais botol-botol dan kardus bekas yang ada di tempat sampah. Kemudian botol
dan kardus tersebut aku serahkan kepada pengepul. Hari ini aku mendapatkan uang
Rp15.000 saja sebab, cuaca sedang tidak mendukung. Bukan hanya cuaca saja
tetapi tubuhku juga yang semakin lemah dan tidak kuat jika harus berjalan jauh
mencari barang bekas di tempat lain.
“Ini nak, ada sebungkus nasi untuk
kalian.” Aku menyodorkannya kepada mereka.
“Lho Bapak sudah pulang?” Mereka
menyambutku dengan penuh riang.
“Iya. Sudah sana makan!” perintahku.
“Bapak sama Ibu sudah makan?” mereka
bertanya dengan nada rendah.
“Sudah. Kami sudah makan.” Jawab kami
dengan tersenyum.
Hari sudah petang. Matahari meredup
dan bersembunyi di sebelah barat. Aku duduk terdiam, merenung, dan menangis.
Angin bergurau seakan-akan menghiburku. Awan menghitam yeng tiba-tiba
menenangkan hatiku. Aku berpikir tentang nasib anak-anakku nanti. Meraka tidakku
sekolahkan sebab, tidak ada biaya. Untuk makan sehari-hari saja kurang.
“Sudahlah Pak,
kita sabar saja. Mungkin ini memang takdir hidup kita. Kita hanya bisa berusaha
untuk tetap bisa hidup.” Tiba-tiba istriku menghampiriku dengan menepuk
pundakku.
“Tidak, tidak
ada yang aku sesali. Aku sudah cukup bahagia memiliki kalian. Aku hanya sedang memikirkan
masa depan anak-anak. Aku ingin sekali menyekolahkan mereka. Agar kelak menjadi
orang sukses dan tidak bodoh sepertiku bu.” Aku menatapnya dengan wajah cemas.
Komentar
Posting Komentar