Harapan Pemulung Hari terlalu pagi, aku tak tahu harus kemana. Sinar mentari di sebelah timur belum tampak muncul sempurna. Ayam berkokok seakan-akan mengajak untuk segera melangkah dan melanjutkan hidup. Aku hanya seorang pekerja yang tidak tetap. Bukan pegawai maupun karyawan. Mungkin, hanya ini yang bisaku lakukan menjadi seorang pemulung. Aku memiliki seorang istri dan 2 orang anak. Hidup kami penuh dengan kesederhanaan tidak seperti mereka yang beruntung hidup dengan kemewahan. Rumah gubuk merupakan satu-satunya harta yang kami miliki. Aku hidup di perkotaan tepatnya di pinggir rel kereta api. Seakan-akan rumah akan rubuh, jika ada kereta api yang lewat. Waktu menunjukkan pukul 04:00 WIB. Aku harus bergegas pergi untuk mengais barang-barang bekas di tepi kota. Istriku dan anakku yang masih kecil sedang pulas tertidur. “Bapak mau kemana?”, anak sulung bertanya dengan setengah sadar dari bangun tidurnya. “Bapak harus pergi nak.” Jawabku. “Sepagi ini Bapak mau pe...