Hati Bersabarlah
Sabar untuk hatiku
Sabar untuk hatiku
Hatiku yang sabar saja
Sabar saja hati
Hati akan baik-baik saja
Hati lekas sembuh saja kau
Sabar hatiku tetapi tetap tegang
Guruku
Kau begitu mulia di mata kami
Kau merupakan orang tua ke dua untuk kami
Membimbing kami tanpa letih
Membimbing dengan kesabaran
Kau tak akan berhenti bertutur
Sebelum kami paham tuturanmu
Guru
Terima kasih atas jasamu
Tak akan ada yang bisa membalasnya
Hanya butuh waktu
Kelak kami akan membuatmu tersenyum
Hanya butuh waktu
Kelak kami menjadi anak yang membanggakan
Mengonversi Sebuah Puisi
Proses Pembuatan Puisi
Puisi ini diciptkan dari sebuah drama yang berjudul Ronggeng Kramat. Ketika saya menonton sebuah drama di sebuah ruangan di Universitas PGRI Semarang saya merekam semua suara percakapan drama tersebut. Pada saat dipertengahan cerita saya hanya menemukan sebuah judul. Bahkan sampai akhir ceritapun saya hanya menemukan sebuah judul. Seiring pementasan saya hanya termenung dan hanya merekam suara pecakapan tokoh-tokoh dari drama tersebut. Tetapi saya bingung dalam memilih kata apa yang pantas untuk dimasukkan dalam puisi saya nanti. Sampai cerita terakhirpun saya tetap merekamnya. Setelah acaranya berakhir, saya langsung beranjak pulang. Terlebih dahulu saya merenung, duduk di sebuah kursi tua dan barangkali saya mendapat inspirasi dari tempat tersebut. Kemudian saya mendengarkan rekaman suara yang sudah saya rekam tadi. Berulangkali saya memutar rekaman-rekaman yang sudah saya rekam. Hal tersebut saya lakukan sampai larut malam. Sehingga sayapun merasa jenuh dan akhirnya tertidur. Ketika bangun pagi, saya belum menemukan inspirasi apapun. Mungkin saya terlalu santai dalam membuat puisi tersebut. Ketika sore hari setelah pulang kuliah saya menemukan inspirasi untuk membuat puisi. Kata-kata dalam puisi yang saya ambil dari rekaman suara percakapan tokoh-tokoh yang mementaskan drama. Contoh puisi saya yang berjudul "Percayalah"
Percayalah
Batu tidak bisa mengeluarkan air
Karena jiwa sudah membatu
Tapi hati kita tidak jadi batu
Terima Kasih.
Mengonversi Sebuah Puisi
Proses Pembuatan Puisi
Puisi ini diciptkan dari sebuah drama yang berjudul Ronggeng Kramat. Ketika saya menonton sebuah drama di sebuah ruangan di Universitas PGRI Semarang saya merekam semua suara percakapan drama tersebut. Pada saat dipertengahan cerita saya hanya menemukan sebuah judul. Bahkan sampai akhir ceritapun saya hanya menemukan sebuah judul. Seiring pementasan saya hanya termenung dan hanya merekam suara pecakapan tokoh-tokoh dari drama tersebut. Tetapi saya bingung dalam memilih kata apa yang pantas untuk dimasukkan dalam puisi saya nanti. Sampai cerita terakhirpun saya tetap merekamnya. Setelah acaranya berakhir, saya langsung beranjak pulang. Terlebih dahulu saya merenung, duduk di sebuah kursi tua dan barangkali saya mendapat inspirasi dari tempat tersebut. Kemudian saya mendengarkan rekaman suara yang sudah saya rekam tadi. Berulangkali saya memutar rekaman-rekaman yang sudah saya rekam. Hal tersebut saya lakukan sampai larut malam. Sehingga sayapun merasa jenuh dan akhirnya tertidur. Ketika bangun pagi, saya belum menemukan inspirasi apapun. Mungkin saya terlalu santai dalam membuat puisi tersebut. Ketika sore hari setelah pulang kuliah saya menemukan inspirasi untuk membuat puisi. Kata-kata dalam puisi yang saya ambil dari rekaman suara percakapan tokoh-tokoh yang mementaskan drama. Contoh puisi saya yang berjudul "Percayalah"
Percayalah
Batu tidak bisa mengeluarkan air
Karena jiwa sudah membatu
Tapi hati kita tidak jadi batu
Hati kita terpecah
belah
Tapi
nasib kita tidak akan hancur Terima Kasih.
Komentar
Posting Komentar