Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2020

Puisi

 Riangan Anak Didik Detik menyuarakan gerak geriknya Raga tergugah bangkit Riangan anak didik kala itu Sayup-sayup rindu tergambar jelas Pendemi menjadi-jadi Entah, tak ada kepastian untuk pertemuan itu Riangan anak didik kala itu Menyisipkan kebahagiaan  Tuhan berbisik Akan ada hikmah dari kejadian ini Riangan anak didik kala itu Tetaplah semangat demi masa depanmu

Puisi

Akhir Kita Terima kasih untuk malam ini Namun, kau bukan yang terakhir Bukan pisah Namun, akan ada jarak diantara kita Tetap singgah Namun, tidak dengan hati yang sama Perkataanmu manis Namun, akhirnya menyayatkan hati Kepastian yang ku tunggu Namun, saat itu tak ada pilihan Kenangan Namun, akhirnya akan kelam

Puisi

Pertemuan Singkat (Karya Amaenda Aprilita) Saat itu aku berada di titik bayangan Tidak ada satu pun jalan yang bisa ku lewati Seolah-olah ingin berputus asa Namun, Ketika ku mengingat penguasa alam semesta Raga ini kembali Bisiknya, kamu tidak akan sendiri Aku mengendap-endap Aku menengok kanan kiri Aku menunduk sembari menadahkan tangan membuat kilauan itu mulai mengarahkan ku Pada satu lintasan yang lurus Terlihat seorang lelaki rupawan memelukku Mengusap-usap Dan melisankan Aku akan menikahimu karena Allah

Cerpen

Harapan Pemulung   Hari terlalu pagi, aku tak tahu harus kemana. Sinar mentari di sebelah timur belum tampak muncul sempurna. Ayam berkokok seakan-akan mengajak untuk segera melangkah dan melanjutkan hidup. Aku hanya seorang pekerja yang tidak tetap. Bukan pegawai maupun karyawan. Mungkin, hanya ini yang bisaku lakukan menjadi seorang pemulung. Aku memiliki seorang istri dan 2 orang anak. Hidup kami penuh dengan kesederhanaan tidak seperti mereka yang beruntung hidup dengan kemewahan. Rumah gubuk merupakan satu-satunya harta yang kami miliki. Aku hidup di perkotaan tepatnya di pinggir rel kereta api. Seakan-akan rumah akan rubuh, jika ada kereta api yang lewat. Waktu menunjukkan pukul 04:00 WIB. Aku harus bergegas pergi untuk mengais barang-barang bekas di tepi kota. Istriku dan anakku yang masih kecil sedang pulas tertidur. “Bapak mau kemana?”, anak sulung bertanya dengan setengah sadar dari bangun tidurnya. “Bapak harus pergi nak.” Jawabku. “Sepagi ini Bapak mau pe...

Puisi

Noda Dosa  (Karya: Amaenda Aprilita)   Mungkin tak setiap hari aku melihatmu Besok atau lusa perantauan telah menanti Tanpa kasihku meninggalkanmu Tangisku bergemricik seakan-akan tiada henti Aku menyesal Seandainya saja ia tak datang di akhir waktu Akan tetapi itu tidak mungkin Ya Allah Pantaskah aku disebut anak durhaka?

Monolog

Bisikku Untukmu Di sebuah desa kecil terdapat seorang anak manusia berjenis kelamin perempuan yang   dekil. Ia berciri-ciri berambut pendek, berkulit sawo matang, dan badannya cukup gemuk. Dari kegemukan tersebut sering kali ia dijuluki si gendut. Ia anak orang yang berkecukupan. Tidak mlarat dan juga tidak kaya raya. Rumahnya sederhana dengan cat tembok berwarna kuning. Orang tuanya hampir setiap hari bekerja jadi, jika dirumah ia hanya bersama kakaknya saja. Sejak umur 10 tahun memang ia jarang bertemu dengan orang tuanya. Bertemu hanya saat malam tiba. Bukannya mereka tidak menyayanginya tetapi bagaimana lagi, hanya dengan cara tersebut perekonomiannya dapat tercukupi. “Sampai kapan?” bergumam dengan rasa kesal. Aku ingin seperti teman-temanku. Mereka selalu punya waktu untuk anaknya. Setiap hari libur tiba, mereka tidak hanya dirumah menonton TV tetapi berekreasi bersama satu keluarga. “Ah!” Setelah dewasa kira-kira berumur 15 tahun ia berbicara empat mata dengan ibuny...

Puisi

Kapan Meet Up ? (Karya: Amaenda Aprilita) Sudah hampir satu tahun Tinggal di kota perantauan Tiba-tiba terngiang dengan koki terhebatku, Ibu Masakan beliau yang menggetarkan lidah Tempe orek asam pedas! Dengan aroma bumbu yang mencolok hidung Hm yummy Ingin ku sederhana saja Pulang untuk rehat sejenak Berjumpa dengan Ibu dan tempe orek

Puisi

Maafkan Perasaa n Ini (Karya: Amaenda Aprilita) Kita bertemu tanpa disengaja Tak lama kemudian kita semakin dekat Dekat bagaikan bunga dan tangkainya Hay apakah ini cinta Sekatika aku merasakan detak jantungmu Aku pikir ada sebuah cinta yang terselip dihatimu Semakin dalam aku rasakan cintamu S emakin tak sempat aku membalasnya     Maafkan aku  Aku yang tak bisa membalas perasaanmu Perasaanmu yang begitu tulus kepadaku Aku hanya bisa menjadi seorang teman Yang suatu saat akan memelukmu Apabila engkau jatuh karena cinta yang lain

Sanksi Plagiat!

Sumber https://syaifalmandiri.wordpress.com/2012/04/03/plagiat-dan-uu-tentang-plagiat/ Sanksi Plagiat (UU No. 20/2003) Lulusan PT yang karya ilmiahnya digunakan untuk memperoleh gelar akademik, profesi, atau vokasi terbukti merupakan jiplakan: Pencabutan gelar (Pasal 25 ayat 2). dipidana penjara paling lama dua tahun dan/atau pidana denda paling banyak 200 juta rupiah (Pasal 70). Hak Cipta Memberi perlindungan terhadap karya cipta di bidang seni, sastra, dan ilmu pengetahuan. Timbul secara otomatis setelah suatu ciptaan dilahirkan. Dianggap sebagai benda bergerak. Dapat beralih atau dialihkan. Ciptaan yang tidak diketahui penciptanya, hak ciptanya adalah pada Negara. Sanksi Pidana Pelanggaran Hak Cipta Pidana penjara paling singkat satu bulan dan/atau denda paling sedikit 1 juta rupiah, atau pidana penjara paling lama 7 tahun dan/atau denda paling banyak 5 milyar rupiah. Bentuk Ciptaan yang Dilindungi Buku, program komputer, pamflet, perwajahan (layout) te...

Puisi

Rebahan (Karya: Amaenda Aprilita) Rebahan Yakin, Rela membaringkan harga diri ini? Tidak sedikit kaum yang candu akan rebahan Bermalas-malas memalaskan badan Menumpul numpulkan pikiran Menyempit nyempitkan kejayaan diri Wahai para kaum rebahan! Bangkitlah! Apa kau tak ingat? Sainganmu bukan satu RT saja Melainkan seluas jagat raya ini   (Amaenda Aprilita)

Puisi

Seorang Pendosa  Di umur balita perilaku itu sudah terlihat Namun, sampai sekarang tidak ku sadari Berkali-kali hati orang tua tercabik-cabik Sebab ulah nafsu ku Alkohol alkohol dan alkoh Tiada hari tanpa alkohol Entah, kapan akan bertaubat Pikirku kau salah satu pelarian terbaik               Kini 30 tahun telah berlalu               Tekad untuk memperbaiki diri sudah ada               Bahkan ayah ibu sudah berikhtiar               Namun diri ini masih sama               Tetap menjadi pelaku pendosa   (Amaenda Aprilita)