Langsung ke konten utama

Cerpen

 

Bisikan Batin untuk Pengawas

            Penilaian akhir semester SMP Nusa Bangsa sudah dimulai. Bu Anya yang merupakan guru mata pelajaran bahasa indonesia di sekolah tersebut siap beralih profesi, yaitu menjadi seorang pengawas. Namun, bukan hanya Bu Anya saja yang berperan sebagai pengawas, guru lain pun begitu. Hari pertama sebelum tes dimulai, mereka selaku tim pengawas beserta panitia penilaian akhir semester melakukan kegiatan sambung rasa. Waktunya singkat hanya 15 menit saja. Sambung rasa dipandu oleh Bu Lia dan diisi dengan beberapa informasi penting dari Kepala Sekolah SMP Nusa Bangsa. Kegiatan berjalan dengan hikmat. “Bpk/Ibu saya berharap panjenengan sedanten melakukan pengawasan secara ketat agar kita semua benar-benar tahu mana siswa yang serius belajar dana mana siswa yang tidak belajar,” ujar Kepala Sekolah SMP Nusa Bangsa. Semua orang yang terlibat dalam kegiatan tersebut otomatis menganggukkan kepala. Berarti semua orang menyetujui arahan dari pimpinan.

Kegiatan telah usai. Para pengawas mengambil map yang berisikan soal dan berkas lainnya. Tes penilaian akhir semester sudah berjalan 2 hari. Hari pertama Bu Anya mendapatkan jadwal mengawasi ruang XIV. Sebelum menuju ruanan, ia menemui Bu Jeni terlebih dahulu untuk bertanya, “Bu, ruang XIV letaknya di mana ya?”. “Itu Bu di samping ruang musik,” jawab Bu Jeni sambil menunjukkan tangannya. “Baik, Bu. Terima kasih.” Kemudian, ia berjalan menuju ruang XIV. Langit begitu cerah seakan-akan menyambut para siswa yang memiliki semangat membara dalam tes hari pertama. Ia membagikan soal dan berkas lainnya yang perlu diterima setiap siswa. Hari pertama cukup baik. Saat mengawasi, para siswa berperilaku tertib dan sewajarnya saja. Batinnya berkata “Alhamdulillah akhirnya hari ini selesai juga ngawasinya.” Sebenarnya ia bukan tipe guru yang suka menjadi pengawas. Ia merasa bahwa menjadi seorang pengawas itu cukup melelahkan. Padahal kegiatannya hanya duduk dan mengawasi para siswa saat mengerjakan soal. Bu Anya lebih nyaman ketika mengajar di kelas. Bisa bercanda dan berkomunikasi langsung dengan siswa. Berbeda sekali dengan menjadi seorang pengawas. Berkomunikasi hanya bisa melalui batin.

Tes hari kedua dimulai. Ia mendapat jadwal mengawasi ruang XI. Mood Bu Anya hari itu sangat baik. “Assalamualaikum wr.wb. Selamat pagi anak-anak. Sehat semua hari ini?” sapaan awal yang selalu Bu Anya ujarkan. Semua siswa menjawab dengan ekspresi semangat. Soal dan lembar jawab dibagikan. Siswa bisa mulai mengerjakan tes. “Silakan dikerjakan dengan tertib, teliti, dan jangan ada yang bertukar jawaban!”, intruksi dari Bu Anya. Waktu pengerjaan dimulai pukul 07.30 WIB dan selesai pukul 09.30 WIB. Artinya banyak waktu yang bisa dimanfaatkan siswa untuk mengerjakan soal tersebut. Bu Anya tak pernah mengedipkan mata saat mengawasi. Matanya selalu tertuju pada ubun-ubun setiap siswa. Sekali lengah pun ia mengetahui siswa yang tidak tertib. Tiga kali kesempatan yang ia berikan untuk siswa agar bisa merubah perilakunya, jika siswa tersebut melakukan kesalahan.

Ruang dengan bentuk kubus yang memiliki celah fentilasi megah menambah ketenangan. Satu jam pertama telah berlalu. Tiba-tiba semua siswa kehilangan konsentrasi. Mereka gelisah karena ada beberapa materi yang terlupakan sehingga mereka sulit mengerjakan soal tersebut. Bu Anya tetap menatap mereka dengan tatapan tajam. Semua siswa bertambah gelisah. Terdengar bisikan batin yang terpancar dari mata setiap siswa. “Sial, kapan si Bu Anya lengah!”, ujar si Dodi. “Masih kurang berapa menit lagi ya? Ini kelas miskin banget. Bisa-bisanya nggak punya jam!”, bisik lirih Senasta. “Susah banget si soalnya cocok deh sama pengawasnya!” ujar mulut Ayu yang menggerutu. “Cantik si, tapi serem banget kalo jadi pengawas”, ujar Leni sambil menatap tajam pengawas tersebut. Di pojok ruang terlihat Sohun yang sedang memukul-mukul kepalanya dengan kesal. Batin Sohun berkata, “Duh, padahal sengaja nggak belajar malah dapat pengawas Bu Anya”. Bu Anya sangat paham dengan setiap tatapan itu. Sempat tertawa lirih dalam batin. “Haha makanya nak, besok lagi belajar jangan mengandalkan orang lain”. Suasana kelas semakin memanas. Namun, tidak terasa waktunya sudah selesai. Semua jawaban siswa dikumpulkan tanpa ada terkecuali. Kemudian, Bu Anya menutup kegiatan dengan memberikan salam.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerpen

Tampak Beda Di sebuah teras rumah yang minimalis tapi tampak nyaman, ada seorang gadis cantik rupawan yang bersandar di kursi. Saat itu ia terlihat murung. "Bosan dengan keadaan", ujarnya dalam hati. tatapan lurus seolah-olah kosong. Angin yang berbisik pelan disela-sela pohon manambah suasana menjadi tenang. Tapi tidak dengan dia. Akhir-akhir ini hanya kehampaan yang menyelimutinya. "Kapan aku bisa menerima kenyataan ini?", ujarny a lagi. La ki-laki yang sangat ia sayangi tiba-tiba pergi begitu saja. Rey namanya. Hubungan mereka sudah cukup lama. Sudah berjalan 2 tahun. Bahkan Rey adalah laki-laki yang paling sabar menghadapinya. Namun diakhir ini, Rey nampak berbeda. Perhatiannya sudah beralih ke orang lain. Sempat menemuinya di sebuah Cafe Kopi milik Kakaknya. Rey hanya berkata "hubungan kita sampai sini saja". Kursi yang sedang didudukinya akhirnya ia tinggalkan. Ia bergegas pergi ke kamar untuk mengambil ponselnya. Baru ia sadari, Kakak Rey past...

Sanksi Plagiat!

Sumber https://syaifalmandiri.wordpress.com/2012/04/03/plagiat-dan-uu-tentang-plagiat/ Sanksi Plagiat (UU No. 20/2003) Lulusan PT yang karya ilmiahnya digunakan untuk memperoleh gelar akademik, profesi, atau vokasi terbukti merupakan jiplakan: Pencabutan gelar (Pasal 25 ayat 2). dipidana penjara paling lama dua tahun dan/atau pidana denda paling banyak 200 juta rupiah (Pasal 70). Hak Cipta Memberi perlindungan terhadap karya cipta di bidang seni, sastra, dan ilmu pengetahuan. Timbul secara otomatis setelah suatu ciptaan dilahirkan. Dianggap sebagai benda bergerak. Dapat beralih atau dialihkan. Ciptaan yang tidak diketahui penciptanya, hak ciptanya adalah pada Negara. Sanksi Pidana Pelanggaran Hak Cipta Pidana penjara paling singkat satu bulan dan/atau denda paling sedikit 1 juta rupiah, atau pidana penjara paling lama 7 tahun dan/atau denda paling banyak 5 milyar rupiah. Bentuk Ciptaan yang Dilindungi Buku, program komputer, pamflet, perwajahan (layout) te...

Contoh Penulisan Notulen/Notula Workshop

  Notulen/Notula Workshop Peningkatan Kompetensi Guru Melalui Pengembangan Media Pembelajaran Buku Saku Berbasis Bercode Hari, tanggal         : Rabu, 3 November 2021 Waktu                    : 11.00-selesai Tempat                  : Ruang kelas VII E             Pembukaan           Sambutan           Inti           Lain-lain           Penutup   1.      Pembukaan Pembukaan kegiatan workshop “Peningkatan Kompetensi Guru Melalui Pengembangan Media Pembelajaran Buku Saku Berbasis Bercode” diawali dengan bacaan basmalah. 2.      Sambutan Sambutan Kepala Sekolah SMPN 1 L...